Rabu, 11 Juli 2012

Analisis Cagub dan Cawagub DKI

Mungkin agak telat ya postingannya, secara hari ini 11 Juli 2012 pemilukada udah diselenggarakan, tapi lebih baik agak telat kali ya daripada telat banget, hihihihi...
Sebagai orang yang belum pernah hidup di Jakarta, beberapa cagub dan cawagub terdengar asing, terutama cawagubnya. dari enam cawagub yang familiar di kuping hanya cawagub no 4 Didik Rachbini (mungkin karena saya yang kurang update juga kali ya?).
Oleh karena itu mari kita coba analisis beberapa pasangan cagub dan cawagub yang ada dari beberapa aspek - yang meskipun enggak ada hubungannya juga - tapi cukup menarik buat saya pribadi

Aspek Asal-Usul
Dari enam pasang cagub dan cawagub hanya pasangan no 1(Fauzi Bowo dan Nachrowi Ramli) yang keduanya lahir di Jakarta. Pasangan no 2 hanya cagub (Hendardji Supandji) yang lahir di Jakarta. Begitu pula dengan pasangan no 5 hanya cawagub (Biem Benjamin) yang lahir di Jakarta. Sedangkan pasangan no 3, 4, dan 6 baik cagub dan cawagubnya tidak lahir di Jakarta.

Aspek Pendidikan
Dari aspek pendidikan, pasangan no 4 memiliki pendidikan tertinggi yaitu baik cagub maupun cawagubnya berpendidikan doktor. Cagub no 1 berpendidikan doktor dan cawagub no1 berpendidikan S-1. Cagub no 2 berpendidikan setara S-2 dan cawagub no 2 berpendidikan S-2. Cagub no 3 berpendidikan S-1 dan cawagub no 3 berpendidikan S-2. Cagub dan cawagub no 5 berpendidikan S-2. Yang terakhir cagub no 6 berpendidikan S-1 dan cawagub no 6 berpendidikan S-3.

Aspek Usia
Cagub paling tua adalah cagub no1 (64 tahun) kemudian berturut-turut cagub no 6 (62), cagub no 2 (60), cagub no 5 (53), cagub no 4 (52), dan paling muda adalah cagub no 3 (51)
Untuk cawagub paling tua adalah cawagub no 1 (61 tahun) kemudian berturut-turut cawagub no 6 (59), cawagub no 4 (52), cawagub no 5 (48), cawagub no 3 (46), dan terakhir cawagub no 2 (43)

Nah demikian analisis saya semoga menjadi pedoman dalam memilih, Selamat Mencoblos (bukan Mencontreng lho).

Selasa, 05 Juni 2012

Tips memilih Perguruan Tinggi Swasta

Lo kok Perguruan Tinggi Swasta?
Yaa karena cuma mereka aja yang bisa dipilih, kalo PTN (perguruan Tinggi Negeri) kan justru mereka yang memilih mahasiswa. Meskipun sekarang PTN juga membuka kelas non reguler (atau apalah sebutannya) namun biasanya dikenakan biaya yang sangat tinggi.
Semakin banyaknya PTS di Indonesia ini sebenarnya memberikan keuntungan yaitu konsumen (baca: calon mahasiswa) mempunyai banyak pilihan. namun di satu sisi konsumen juga harus lebih jeli dalam memilih. Berikut ini saya mencoba memberikan tips dalam memilih PTS agar tidak menyesal nantinya karena sekali salah memilih PTS menyesalnya bisa seumur hidup :)

  1. Tentukan Jurusan. Jangan sampai memilih PTS tapi belum tahu jurusan apa yang akan diambil. Ini sama saja pilih pacar tapi belum tahu orientasi seksualnya straight ato bengkong :D
  2. Tentukan budget. Jangan sampai sudah mantap memilih PTS namun ternyata tidak terjangkau.
  3. Cari informasi sebanyak-banyaknya. Di era informasi seperti ini informasi bisa dicari lewat website kampus yang bersangkutan. Kondisi website juga sedikit banyak mencerminkan kondisi PTS. Website yang update berarti PTS tersebut mempunyai fasilitas IT yang memadai. Sebaliknya PTS dengan website yang "kadaluarsa" bisa berarti macam-macam. Bisa jadi fasilitas IT PTS tersebut memang kurang, atau memang PTSnya sudah almarhum. hehehehe.Selain melalui website, informasi PTS juga bisa dicari melalui kakak kelas yang kuliah di tempat tersebut maupun melalui alumni-alumninya (sebelumnya pastikan mereka bukan bagian dari staf pemasaran PTS tersebut, karena hasilnya bisa bias). Tanyakan mengenai proses belajar mengajar, watak dosen-dosennya, sampai kemudahan dalam memperoleh nilai, dan mengerjakan tugas akhir atau skripsi.
  4. Cek langsung ke TKP. ini sangat penting. Beberapa calon mahasiswa malas untuk mendaftar secara langsung ke kampus yang bersangkutan dan memilih untuk mendaftar via web, atau nebeng temen. Kenapa cek kondisi kampus begitu penting? Karena seringkali ada beberapa hal yang tidak sesuai dengan yang ada di brosur, atau website. Berikut ini hal-hal yang harus diperhatikan manakala mengecek langsung ke TKP:
  • Kondisi bangunan. Ini yang biasanya berbeda. Kondisi bangunan yang tampak di brosur atau web biasanya sangat baik. Namun kita tidak tahu tahun berapa foto tersebut diambil? Atau apakah mereka menggunakan software pengolah gambar untuk membuatnya lebih indah?
  • Fasilitas. Dalam brosur atau web dapat dijumpai beberapa fasilitas yang menarik misalnya ruang kelas ber-AC, Hotspot area, Laboratorium canggih, termasuk beberapa UKM yang dijanjikan oleh PTS misalnya Futsal, bulu tangkis, tenis meja, dll. Harus dicek secara seksama apakah AC yang dimaksud benar-benar hidup dan dingin, atau hanya sekedar ruangan ber-AC namun tetap berkeringat? hotspot area juga harus dicek, apakah sinyal dan jangkauannya baik atau hanya berfungsi di ruang Dosen saja? Laboratorium canggih. Ini juga Debatable. Definisi canggih sangat luas. lemudian UKM yang ditawarkan. Beberapa PTS hanya menyediakan salah satu dari sekian UKM yang ditawarkan, biasanya dipilih yang peminatnya paling banyak.
  • Biaya kuliah. Loh bukannya bisa dilihat di brosur dan web? iya sih tapi beberapa PTS tidak sesuai. Pastikan apakah biaya tersebut sudah bersih? bagaimana dengan mata kuliah Lab? karena biasanya mata kuliah Lab dipungut biaya sendiri. Lalu berapa biaya skripsi? wisuda? karena boleh jadi biaya kuliah murah namun skripsi dan wisuda sangat mahal. Sama aja bisa masuk enggak bisa keluar.
Oke mungkin cukup untuk sementara, siapa tahu ada part-2 nya. Tapi nggak janji loh...
selamat memilih kakaaaaak...

Selasa, 14 Februari 2012

Drogba berKTP Inggris


Drogba berKTP Inggris?
Yah Drogba sepertinya berKTP Inggris, demikian pula dengan kakak beradik Yaya dan Kolo Toure, juga Gervinho.  Kenapa saya bisa menyatakan demikian? Ini mungkin berawal dari kekesalan saya terhadap kekalahan Pantai Gading atas Zambia pada laga final piala Afrika dini hari tadi. Saya bukan penggemar berat Pantai Gading apalagi Zambia. Buat saya Pantai Gading dan Zambia sama-sama layak berada di partai final. Bedanya adalah Pantai Gading merupakan tim yang bertabur bintang yang rata-rata pemainya bermain di liga Eropa. Sebutlah Didier Drogba dan Salomon Kalou (Chelsea), Yaya dan Kolo Toure (Manchester City), dan Gervinho (Arsenal). Tapi prestasi mereka di kancah internasional tak segemerlap prestasi mereka di level Klub.


Kenapa bisa demikian? Analisa ngawur saya adalah mereka sudah terlalu lama tinggal di Inggris dan bermain bola dengan gaya Inggris sehingga lupa cara bermain ala Pantai Gading. Alasan yang kedua mungkin karena motivasi mereka untuk membela negara lebih kecil dari motivasi mereka membela klub masing-masing.
Ini yang menjadi concern saya. Bahwa membela negara terkadang menjadi persoalan yang berat untuk dilakukan. Membela negara adalah berkorban demi negara. Contoh ekstremnya adalah para pahlawan yang mengorbankan segalanya demi negara. Didier drogba dan kawan-kawan juga. Mereka rela meninggalkan ketatnya kompetisi liga prtimer Inggris demi membela negara di kancah piala Afrika. Bagi seorang pemain bola, bermain di liga sebesar liga Primer Inggris adalah impian semua pemain. Setiap caps yang mereka peroleh, setiap assist yang mereka buat, setiap gol yang mereka cetak, merupakan kebanggaan bagi mereka. Meninggalkan klub untuk berlaga di timnas masing-masing merupakan pengorbanan. Mereka beresiko kehilangan gelar top scorer liga, mereka beresiko cedera panjang dan tidak bisa membela klub, bahkan sepulang dari membela timnas mereka mungkin saja digeser posisinya oleh pemain lain (beberapa klub mendatangkan pemain baru selama piala Afrika baik secara pinjam maupun permanen).
Namun bagi saya sebagai penonton amatiran pengorbanan yang dilakukan para pemain itu seperti setengah hati, mereka tidak bermain pada level tertingginya. Apakah ini terkait dengan upah mereka? Atau ada hal lain yang menurunkan motivasi mereka? Seharusnya ketika mereka memutuskan untuk membela negara mereka harus melakukan seperti mereka membela klub bagaimanapun kondisi negara mereka. Mereka harus menghormati pelatih timnas seperti mereka menghormati pelatih klub, mereka harus menghargai supporter timnas, seperti mereka menghargai supporter klub, dan mereka harus mengabdi pada kepala negara seperti mereka mengabdi pada pemilik klub.
Miris rasanya jika melihat kenyataan yang demikian. Saya salut jika ada seorang yang rela meninggalkan kemewahan yang ditawarkan negara lain demi negara sendiri. Contohnya ada pada mantan presiden Prof Habibie. Dia mendapat tawaran bekerja di Jerman dengan segala jaminan yang menggiurkan tetapi beliau memilih pulang ke Indonesia. Saya kira masih banyak Habibie-Habibie yang lain, yang masih memiliki hasrat untuk berkarya bagi Indonesia dengan tulus, tidak peduli bahwa negara ini tidak membayar setinggi negara lain, tidak peduli bahwa negara ini tidak senyaman negara lain, dan tidak peduli bahwa negara ini tidak menjanjikan apa-apa seperti janji negara lain kepada mereka. Peribahasanya “lebih baik hujan batu di negeri sendiri daripada hujan emas di negeri orang” meskipun sebenarnya lebih baik lagi hujan emas di negeri sendiri.
So, silahkan menuntut ilmu sampai ke negeri Cina, tapi jangan lupa kembali ke Indonesia dan berikanlah yang terbaik.